Menu Close

LABDA Ki Ageng Henis

Istilah Labda yang merupakan singkatan Laboratorium Dakwah saya dapati di buku Percakapan Antar Generasi, Pesan Perjuangan Seorang Bapak, dimana LABDA bertindak sebagai penerbitnya. Buku tersebut berisikan wawancara lima intelektual muda pada masanya, yakni Amin Rais, Ahmad Watik Pratiknya, Kuntowijoyo, Yahya Muhaimin dan Endang Saifuddin Anshari. Buku kecil yang diterbitkan pada tahun 1988 tersebut merupakan olahan dari wawancara panjang antara para cendekiawan muda tersebut dengan pak Natsir. Saya sebut wawancara panjang karena wawancara itu dilakukan berseri antara tahun 1986 – 1987 dan konon wawancara direkam dalam 39 kaset video. Sayangnya video-video tersebut tidak bisa diselamatan, sehingga hanya tersisa buku kecil yang merupakan rangkumannya.  Buku tersebut diterbitkan pada tanggal 17 Juli 1988 bertepatan dengan tasyakuran 80 tahun Muhammad Natsir.

 

Buku ini menarik karena mempertemukan aktifis dan pemikir Islam dari zaman yang berbeda. Kritisisme anak-anak muda yang ditanggapi dengan kupasan yang dingin dan mendalam dari seorang tokoh yang hidup melintas beberapa zaman, mulai zaman kolonialisme Belanda, era perrgerakan Nasional, era kemerdekaan, era Orde Lama dan juga Orde Baru. Natsir bukan hanya pemikir, ia juga pelaku sejarah yang aktif.  Dengan demikian, hasil wawancara dengan pak Natsir tersebut mampu memberikan proyeksi langkah lanjutan dakwah di Indonesia pada berbagai bidang.

 

Masjid Ki Ageng Henis Laweyan

Urgensi Laboratorium Dakwah

Ada banyak tantang umat Islam, kini dan nanti, yang membutuhkan kerseriusan umat Islam dalam melakukan dakwah. Tantang itu tersebar di berbagai sektor, mulai dari penggelapan sejarah, radikalisme baik yang bersifat alamiah maupun rekayasa, marginalisasi ekonomi, sekularisasi, kristenisasi maupun nativisasi, yang kesemuanya berpotensi melemahkan posisi umat Islam. Tema-tema yang diungkapkan pak Natsir dalam buku tersebut mungkin bukan sesuatu yang asing bagi para aktifis dakwah, meski demikian selama ini tema-tema terkait tantangan umat Islam tersebut hanya dibahas permukaannya saja dalam aneka kajian dan tabligh akbar.

Ambil contoh tema kristenisasi, sebuah tema yang cukup sering dijadikan sebagai judul pengajian ataupun seminar. Meski demikian sampai saat ini, belum ada satupun buku yang komperehensif yang bisa menjelaskan seperti apa sih kristenisasi itu. Buku-buku yang bersedar di masyarakat, meskipun menampilkan judul Kristenisasi, isinya ternyata lebih kepada Kristologi, perbandingan konsep keagamaan Islam dan Kristen, itupun bukan buku akademik. Hal semacam ini bisa kita lihat pada buku karya Ibu Irena Handono, yang berjudul Awas Bahaya Kristenisasi di Indonesia, yang diterbitkan oleh Bina Rodheta. Fenomena serupa juga saya temui dalam buku Strategi Menghadapi Kristenisasi dan Pemurtadan, Materi Pengembangan Dakwah Daerah Terpencil, yang diterbitkan oleh Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus PP Muhammadiyah, isinya lebih banyak materi Kristologi.

Hal ini tentu merupakan ironi tersendiri bagi dunia dakwah, bagaimana sebuah tema yang sering diangkat menjadi tema kajian dan seminar belum menemukan landasan ilmiah yang memadai. Berangkat dari fenomena itulah, maka untuk ke depannya dakwah harus berbasis kepada riset, dengan demikian, aktifitas dakwah bukan hanya aktifitas yang menumbuhkan semangat keIslaman akan tetapi juga mampu menjadi problem solving atas problematikan umat Islam di berbagai bidang.

Kompleks Makam Ki Ageng Henis Laweyan

Ki Ageng Henis

Mengapa kemudian Laboratorium Dakwah ini diberi nama Ki Ageng Henis ? Ki Ageng henis adalah seorang ulama yang hidup pada era Kerajaan Pajang dipimpin oleh Sultan Hadiwijaya. Ki Ageng Henis adalah putra dari Ki Ageng Sela, yang mempunyai putra Ki Ageng Pemanahan.  Nantinya Ki Ageng Pemanahan adalah  Danang Sutawijaya yang merupakan pendiri Kerajaan Mataram Islam. Oleh gurunya,  yakni Sunan Kalijaga, Ki Ageng Henis diperintakan untuk berdakwah di wilayah Pajang, yang nantinya oleh Raja Pajang Sultan Hadiwijaya, Ki Ageng Henis diberikan tanah perdikan Laweyan.

Selain berdakwah Ki Ageng Henis juga mengajarkan ketrampilan membatik pada warga Laweyan. Sebelum kedatangan Ki Ageng Henis, Desa Solo adalah desa pertanian, namun seiring dengan berkembangnya industri Batik, Solo secara perlahan namun pasti berkembang menjadi pusat industri, bahkan juga menjadi pusat dari pemerintahan Kasunanan Mataram Islam. Pada tahun 1503, Ki Ageng Henis meninggal dan dimakamkan di belakang Masjid Laweyan, masjid yang didirikannya. Oleh karena itu, ditilik dari usia, Masjid Agung Laweyan ini usianya lebih tua 300 tahun dibandingkan dengan Masjid Agung milik Kraton yang ada di kampung Kauman Solo. Perjalanan yang unik seorang da’i yang juga berhasil mengembangkan potensi keumatan, yakni Batik, tentu harus mendapat posisi tersendiri dalam sejarah dakwah Islam di Kota Solo khususnya dan Dakwah Islam di Nusantara pada umumnya. Untuk itulah kemudian Laboratorium Dakwah ini diberi nama Labda Ki Ageng Henis, dengan harapan mampu menghadirkan riset tentang dakwah Islam yang bersifat problem solving dan mampu mengempower berbagai potensi umat.

Boyolali, 14 Oktober 2019, 14:12 WIB

Arif Wibowo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.